English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

TRANSLATION

Monday, September 17, 2012

Acara Adat Perkawinan Dayak Ngaju, Central Borneo


Lama rasanya manusia biasa sudah tidak memposting tentang artikel adat Dayak Ngaju, Ok dech sekarang manusia biasa akan bawa kalian ke asal mula ritus perkawinan adat dayak ngaju. Ritus perkawinan Adat Dayak Ngaju bermula dari tradisi lisan yang berakar dari religi warga setempat yakni kepercayaan  Kaharingan. Diriwayatkan bahwa Ranying Hatala Langit (Tuhan Semesta Alam) sebelum menurunkan manusia ke muka bumi ini, diatas sana telah terjadi perkawinan antara Nyai Endas Lisang Tingang dengan Garing Hatungku atas kehendak mereka sendiri.

Setelah mereka menikah dan mempunyai anak yang mereka beri nama dengan Sangumang, maka kemudian mereka dikenal dengan sebutan Indu(Ibu) Sangumang dan Bapa(ayah) Sangumang. Raja Uju Hakanduang berkata bahwa mereka tidak boleh menurunkan keturunan kebumi apabila tidak mendapatkan berkat dari Ranying Hatala Langit.
Atas perintah Ranying Hatala, Raja Uju Hakanduang menikahkan Nyai Endas dengan Garing Hatungku sambil memegang Batang Garing sebagai simbol perjanjian, dan dengan tangan telunjuk keatas yang menandakan Ranying Hatala Langit sebagai saksi dan pengendali hidup manusia. Empat jari merupakan lambang dari kepentingan dunia yang harus dipenuhi dan ini mengandung pengajaran, yaitu:


1. Jari Jempol : Melambangkan manfaat alam semesta sebagai sumber hidup kita.
2. Jari Telunjuk Tengah : Lestarikan alam semesta yang ada agar tidak rusak dan punah.
3. Jari Manis : Menyatu supaya bisa serasi dengan alam lingkungan hidup.
4. Jari Kelingking : Hormatilah kepentingan lingkungan hidup Kita.

setelah Nyai Endas dan Garing Hatungku berikrar, mereka kemudian "disaki" dan "dipalas".

setelah menikah, Nyai Endas tidak mau berkumpul dengan suaminya (ngabele) sebab dia merasa kurang persayaratan kawinnya. Lalu garing Hatungku bertanya apakah yang kurang? Nyai Endas meminta palaku sebagai bukti bahwa dia sudah kawin dan sebagai modal hidup yang dapat di perlihatkan kepada anak cucu. Nyai endas meminta Palaku:

1. Bukit Lampahung Nyahu (tempat sandung).
2. Banama Bulau Pahalendang Tanjung Ajung Rabia Pahalingei Lunuk (tempat peti mayat atau satu kubur).
3. Bukit Tampung Karuhei (tempat kumpulan rejeki dan kekayaan).

Garing Hatungku berkeliling mencari permintaan isterinya. Ketika ia memanjat pohon yang bernama Mantang Kayu Erang dengan maksud ingin menjumpai Ranying Hatala Langit untuk mencari kehidupan yang sebenarnya, nampaklah olehnya di alam terbentang peti mati dan ada sandung.

Garing Hatungku segera turun, namun ia terjatuh dan lawung (ikat kepala) nya terlepas. Karena kayu Erang tersebut mengandung air kehidupan (Danum Nyalung Kaharingan) maka lawungnya tadi menjelma menjadi Kuwung Bulau Sangkalemu yaitu binatang buas sejenis tupai bersayap. Karena terkena air kehidupan, tali penyang berubah menjadi ular tadung, lawas lamang pulut menjadi ular depung sedangkan rambatnya menjadi binatang rusa.

Gaing Hatungku berjalan terus dan akhirnya sampai ke tempat lewu (desa) Bukit Tampung Karuhei yakni tempat yang indah yang penuh dengan rejeki dan kekayaan. Tempat inilah sebagai tempat akhir mereka hidup bahagia.

Setelah syarat palaku yang diminta oleh Nyai Endas terpenuhi barulah Nyai Endas mau berkumpul dengan suaminya.

Tata cara perkawinan Nyai Endas dan Garing Hatungku merupakan asal mula ritus perkawinan adat dayak dan ini selalu dilakukan turun temurun oleh masayarakat suku dayak yang masih memegang teguh akan adat istiadat ini. Mudah  mudahan dengan artikel ini mampu membuat pemuda  pemudi kalteng terutama Suku Dayak ngaju sadar akan posisi mereka sekarang.

Lestarikan Budaya Daerah Indonesia. Jangan sampai adat istiadat serta asal usul budaya bangsa anda tidak tahu.

No comments:

Post a Comment